SEJAK dua bulan terakhir setiap hari Minggu pagi, di Jalan Tgk Daud
Beureuh di Kawasan Simpang Lima Banda Aceh ditetapkan sebagai jalur car free day
alias jalur Hari Bebas Kendaraan. Alhasil jalananan tersebut
dimanfaatkan oleh warga dan berbagai komunitas untuk membuat aneka
kegiatan yang mengibur.
Setiap hari Minggu pagi selalu saja ada acara menarik di kawasan
tersebut, entah itu pertunjukan musik, senam bersama, aksi donor darah
dan tari Seudati massal yang selalu diikuti ratusan masyarakat.
Di Banda Aceh, car free day bukan hanya sebagai gerakan untuk
meminimalisir laju kendaraan bermotor, sebagai upaya penyelamatan
lingkungan. Tetapi juga menjadi ajang untuk mempertahankan nilai-nilai
kebudayaan, salah satunya adalah dengan mengikuti tari Seudati massal
secara rutin.
Selain itu juga menjadi ajang untuk saling silaturrahmi antar
komunitas, di acara ini ratusan anak muda Banda Aceh dan sekitarnya
biasanya selalu berkumpul untuk menunjukkan kreatifitas mereka
masing-masing.
Di Banda Aceh gerakan car free day memang terbilang baru, bahkan
gerakan ini belum diberlakukan di semua daerah di Aceh. Namun, gerakan
ini sebenarnya telah berlangsung sejak akhir tahun 1970-an di Amerika.
Saat itu di Amerika mulai mengalami krisis minyak. Pada tahun 1990-an
gerakan serupa mulai merambah ke beberapa kota di Eropa. Sedangkan Car
Free Day Internasional mulai diselenggarakan di kota-kota di Eropa pada
tahun 1999.
Di Eropa program ini merupakan proyek percontohan kampanye Uni Eropa
“Kota Tanpa Mobil” (In Town Without My Car). Kampanye ini terus
berlanjut hingga kini dalam bentuk Minggu Mobilitas Eropa atau European
Mobility Week.
Car free day telah dilaksanakan di lebih dari 1500 kota di 40 negara
melalui penutupan sebuah ruas jalan, kemudian mengisinya dengan berbagai
kegiatan seperti festival, bazaar, parade sepeda dan kegiatan lainnya.
Di Indonesia, kota pertama yang menyelenggarakan gerakan car free day
adalah Surabaya pada tahun 2000 silam. Kegiatan tersebut merupakan
bagian dari kampanye peningkatan kualitas udara kota yang bernama “Segar
Suroboyoku Rek”. Di Jakarta car free day pertama kali digelar sejak
tahun 2002. Acara itu pertama kali dilaksanakan oleh Koalisi LSM
Lingkungan sebagai wadah untuk menampung aspirasi masyarakat dalam
pembuatan kebijakan pemerintah.
Kegiatan utama car free day adalah penutupan jalan sementara. Untuk
memanfaatkan suasana itu berbagai aksi menarik dilangsungkan seperti
pertunjukan kesenian, hiburan, permainan, olah raga, parade dan lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar