---((CAR FREE DAY - PASKER))--- OLEH KARANG TARUNA PANCA DHARMA DESA KETAPANRAME & BEKERJA SAMA DENGAN PEMERINTAH DESA KETAPANRAME, PEMERINTAH KECAMATAN TRAWAS, POLSEK DAN KORAMIL KECAMATAN TRAWAS KABUPATEN MOJOKERTO
======= TUNGGU KEHADIRAN CAR FREE DAY PASKER DESA KETAPANRAME ========

Rabu, 02 November 2016

LEGENDA DESA KETAPANRAME

Pada zaman dahulu, ketika tahun 1367, ada beberapa penghulu/ hulubalang yang datang dari Kesultanan Mataram yang dimpimpin oleh Mbah Suronggolo (Seorang Tumenggung) dan diberi tugas untuk menumpas Adipati Kahuripan yang mbalelo (membangkang, tidak mau asok buluk bekti kepada kesultanan Mataram).
Mbah Suronggolo berangkat dengan sahabat-sahabatnya, yaitu :
1.      Mbah Tambak Boyo
2.      Mbah Ranu Boyo
3.      Mbah Singo Boyo
4.      Mbah Selo Boyo
5.      Mbah Ngabei Ronggo Warsito
6.      Mbah Teki-Teki Telik
Mereka semua adalah orang yang sakti.
Ketika tujuh orang itu masuk wilayah kahuripan (sekarang Pasuruan) dan sampai di perbatasan sungai bangkok (perbatasan antara Pandaan dan Pasuruan, yaitu dari selatan konang sampai kali Putih), mereka disambut oleh prajurit Kahuripan. Mereke bertujuh dihujani tombak, panah, pedang dan berbagai senjata tajam lainnya. Akhirnya Mbah Suronggolo dan sahabat-sahabatnya mundur, mereka lari untuk menyelamatkan diri sehingga mereka berpisah.
Mbah Tambah Boyo lari ke Lereng Gunung Welirang yang akhirnya babad Desa Ketapanrame.
Mbah Ranu Boyo dan Mbah Singo Boyo lari ke sebelah utara dan babad Desa Sumbersari, Kesiman dan Kemlagi.
Mbah Selo Boyo dan Mbah Ngabei Ronggo WARsito turun ke Lereng Gunung Penanggungan dan babad Desa Duyung.
Mbah Teki-Teki Telik lari ke barat dan babad Desa Belik.
Dan Mbah Suronggolo lari ke lereng gunung Penanggungan sebelah barat daya.
2.)        Asal Mula Ketapanrame
Setelah gagal menumpas Adipati Kahuripan yang membangkang kepada Kasultanan Mataram, Mbah Tambak Boyo lari ke lereng Gunung Welirang. Di sana beliau menjumpai wilayah tersebut masih berupa hutan belantara yang penuh dengan jin, syetan, dedemit dan sejenisnya.
Oleh karenanya beliaupun memulai untuk menebang kayu-kayu tersebut supaya kelak bisa menjadi suatu tempat yang dihuni oleh golongan manusia. Ketika beliau menebang kayu demi kayu, tiba-tiba masing-masing kayu tersebut mengeluarkan darah dalam jumlah yang sangat banyak. Alkisah, saat itu para jin, syetan, dedemit dan sejenisnya sama-sama menangis, menjerit dan meratap karena rumah mereka dirusak.
Karena sangat banyaknya jin, syetan, dedemit dan sejenisnya yang menghuni wilayah tersebut, akhirnya Mbah Tambak Boyo seolah-olah merasa sudah tidak sanggup lagi untuk membabad hutan tersebut. Beliaupun akhirnya memutuskan untuk bertapa dalam beberapa waktu di sebuah tempat yang saat ini tempat tersebut dinamakan Punden Sendenan.
Selang beberapa waktu, setelah bertapa Mbah Tambak Boyo kembali melanjutkan menebang hutan (babad). Beliau memulainya dari sebelah Timur (sekarang Tapan Wetan). Di wilayah itulah yang pertama kali ditempati oleh Mbah Tambah Boyo.
Di wilayah yang baru dibabat itu, Mbah Tambak Boyo mendirikan sebuah padepokan yang mengajarkan ilmu kanuragan. Untuk kali pertamanya, penduduk/ orang yang menempati wilayah tersebut hanya 27 orang. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, tempat itu semakin lama semakin ramai karena banyaknya orang yang mencari ilmu/berguru ilmu kanuragan di Padepokan Mbah Tambak Boyo.
Tempat itu akhirnya diberi nama Ketapanrame artinya suatu tempat yang dulunya digunakan untuk bertapa tapi kini menjadi suatu tempat yang sangat ramai karena banyak dikunjungi oleh orang dari berbagai penjuru yang ingin menimba ilmu di wilayah tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar